Minggu, 30 Juni 2013

mengalir bagai sungai

Ada yang menarik dari daur hidup sungai. Bayangkan, badan sungainya tetap, namun air yang mengalir didalamnya selalu berganti tiap detik.
Manusia ibarat sungai, badan wadagnya tetap, namun persoalan, penderitaan, kesenangan, sakit, sehat, bĂȘte, romantika, dinamika selalu berganti. Bagaikan air yang mengalir di badan sebuah sungai.

Bicara tentang sungai, ternyata sungaipun punya fase usia selayaknya manusia. Ada tiga fase usia sungai yakni Sungai Muda, Sungai Dewasa dan Sungai Tua.

Sungai muda memiliki ciri dinding yang terjal, dan memiliki penampang berukuran kecil. 

Sungai dewasa memiliki ciri bagian terjalnya sudah berkurang, dan daya erosi serta kecepatan alirnya juga berkurang.

 Sementara dibeberapa bagian sungai dewasa mulai ditemukan endapan.Sungai Tua memiliki ciri penampang yang melebar, pada bagian sisinya terdapat limpahan banjir, endapan material makin banyak ditemukan sebagai hasil aliran air sekian lama.Kok seperti perjalanan hidup seorang manusia bernama Amir Faisol ya…..?

Lantas, fase usia apa yang saya alami kini? Dewasa? Ouw tidak, apalagi muda. Tidak lah youw..

Penampang badan melebar, ada limpahan banjir (airmata), ada endapan (kolesterol, asam urat,dll), jadi memang berdasarkan ciri usia sungai ternyata sudah mencapai fase Tua!Yaa ALLAH, berilah hambaMu usia panjang yang sehat dan bermanfaat. Aamiiin ……

6 komentar:

  1. Aaaamiiin.

    Senja akan lebih indah lagi pabila dihiasi dengan tulisan-tulisan curahan hati.
    Lanjut, mas.

    BalasHapus
  2. mas, sementara ini biarlah kita bersunyi-sunyi berdua di sini...
    tulis saja terus, suatu saat tentu akan ada yang mengambil manfaatnya...
    mungkin perjalanan belum sepanjang dan sehebat yang lain, tapi tentu kita berharap ada sedikit nilai yang menurut kita layak dipikir, digagas, atau mungkin ditertawakan bahkan mungkin ditangisi oleh siapapun...
    yang cocok ya syukur
    yang tersengat ya maaf
    yang terharu ya nggak apa-apa
    yang tidur mungkin jadi terbangun
    yang ngebut bisa jadi terus pasang sedikit rem
    yang senang nah itu dia

    gitu ya mas, mari saling memberi semangat
    saya jadi tergugah juga setelah panjenengan menulis kembali di blog
    silaturahmi virtual barangkali nilainya sama dengan silaturahmi yang lain

    terus mas

    BalasHapus
  3. teman kita bukak dasar juga di www.hkanafi.blogspot.com dan www.kungqoryat.blogspot.com
    mari kita datangi bersama-sama

    BalasHapus
  4. Pakde sol.. ada lagi sungai yg banjir tidak mampu menampung rejeki tetapi ada juga yg kering kerontang bahkan bisa untuk kemah ditengahnya.
    Masih ingat sewaktu smp kita pernah kemah di tengah sungai didaerah kemiri???

    BalasHapus
  5. mas indro?
    cerita dong tentang
    kemah di tengah sungai: petualangan anak ke dunia mimpi.....
    biar jadi kenangan sepanjang masa di senja indah, selagi bisa nulis....

    setuju pakdhe sol?!

    BalasHapus
  6. Mas Paromo,mas Indro,memang dmkn adanya. Kenangan masa lalu menjadikan saya lebih mengenal diri sendiri,dan banyak didukung oleh kenangan bersama teman.
    Jenenge Kesawen mas Indro. Masak jg pakai air sungai kok ya rapapa.
    Eling (halo cak Paromo) regu putri sapa wae mas Indro? Pembinane al pak Kodrat(alm).

    BalasHapus