Bulan Romadhon memang mengandung banyak nilai, disamping banyak kenangan yang sungguh sulit dilupakan.
Namun semakin tua usia ini kayaknya rasa puasa ini menjadi lain jika dibandingkan dengan puasa pada tahun-tahun yang telah berlalu. Benarkah faktor usia yang menjadi sebab ataukah ada sebab yang lain?
Namun ada juga sih rasa yang masih seperti yang dulu, antara lain rasa senanmenjelang berbuka, rasa pengin bikin camilan buat lebaran, rasa pengin kumpul keluarga.Maklum mereka sudah sibuk sendiri-sendiri.
Lalu salahkah rasa yang begitu? Apakah semakin tua usia kita semakin melankolis? Sungguh "rasa tidak bisa berbohong".
Pertanyaan berikut yang muncul dibenak saya adalah "apa memper wong tuwa isih kaya ngono?"
Bagi saya kok shiyam dalam arti menahan diri belum sepenuhnya berhasil saya hayati.
Namun saya berharap apa yang sudah dan sedang saya lakukan tetap dalam koridor "imanan wahtisaban", iman dan semata-mata berharap perkenan Tuhan. Semoga.